tentang mimpi sejuta umat

November 5, 2009 - One Response

emak ingin naik haji.Di negeri ini, haji ternyata bisa menjadi sebuah ironi. Apalagi kalau Anda menyaksikan film yang diangkat dari cerpen Asma Nadia yang berjudul Emak Ingin Naik Haji (EINH). Tema haji, mampu menguak realitas ketimpangan sosial yang terjadi di negeri ini. Tentang lebarnya jurang antara mereka yang hanya bisa berucap “ingin” dengan segelitir masyarakat yang menjadikan haji seperti perjalanan piknik mengisi pakansi. halah! Ini bikin resensi serius amat sih? Kayak mau bikin paper kuliah ajah!  Hehehe..

Tapi, menonton EINH memang seperti mendapat sebuah paket lengkap ketika Anda duduk di depan layar menyaksikan film produksi bersama Mizan Production dan Smaradhana Pro ini. Semua memang bisa Anda temui di film karya Aditya Gumay ini: kritik sosial, redefinisi pemahaman, parodi, komedi kecil-kecilan hingga realitas masyarakat yang tergambar agak riil di film ini.

Film ini (saya kutip dari sini, makasih buat Imazahra, maap pembaca saya resensor pemalas. hehe..) bertutur tentang tokoh Emak lansia yang welas asih pada anaknya yang bernama Zein. Emak penyabar ini sedang ‘menabung’ mimpi. Ingin pergi ke Mekah menunaikan rukun Islam yang kelima. Sementara kemiskinan yang membelit mereka tak mampu jua mewujudkan cita-cita Emak. Bertahun-tahun Emak membuat kue dan menjualnya di pasar, apa daya ongkos naik haji selalu naik secara signifikan setiap tahunnya. Sehingga impian terasa semakin utopis! Ironisnya, tetangga sebelah rumah mereka yang kaya raya justru bolak balik ke tanah suci.

Saya memang agak seidikit terganggu dengan awal film yang terkesan agak lambat. Tapi secara keseluruhan, film ini, berhasil menampilkan potret yang agak realistis dan agak logis dibanding beberapa film Indonesia pada umumnya. Sebagai produk hiburan, sejauh pengamatan saya terhadap penonton, EINH berhasil membangun emosi penonton dari berbagai kalangan dengan menghadirkan gelak, air mata dalam tangis dan keharuan sepanjang pemutaran film.

Sketsa kemiskinan misalnya, secara apik tergambar dengan adegan keterpaksaan anak-anak tetangga Emak memakan bangkai burung sebagai ketiadaan pilihan yang sehari-hari terjadi di kalangan rakyat negeri ini. Pilihan lokasi di Warakas, Tanjung Priok, secara relatif juga berhasil mengangkat gambaran kehidupan riil yang terjadi di daerah kumuh sejenis. EINH juga hampir dapat menangkap beberapa gambaran komunitas akar rumput seperti kelompok majelis ta’lim bahkan dengan istilah spesifik semacam topik obrolan tentang obat “malam jahanan”. Hehe.

Film juga memberi pesan parodi yang menarik tentang masih digunakannya ibadah haji sebagai alat status sosial bahkan pencitraant politis.

Film ini, buat saya, bisa jadi pilihan bagi Anda yang ingin mencari sebuah nilai lebih saat Anda pergi menonton bersama keluarga atau dengan rombongan besar ibu-ibu pengajian. Sangat direkomendasiken lah, intinya.

Walau pesannya berat: tentang redefinisi ibadah berhadapan dengan kondisi sosial atau tentang kesalehan individu yang sering menenggelamkan kesalehan sosial. Namun film Emak Ingin Naik Haji telah mencoba sebuah usaha bahwa pesan berat itu tak harus sampai dalam bentuk terlalu verbal. Ringan dan menghibur, dan mudah-mudahan juga mencerahkan.

Selamat kepada seluruh tim Emak Ingin Naik Haji. Semoga mendapat respon yang luar biasa dari masyarakat yang haus akan hiburan yang agak bermutu dan agak mendidik.

Selamat menonton!

boy hamidy
orang biasa yang juga penikmat film. :D

Sekonyong- konyong KCB 2

September 24, 2009 - One Response

PosterKCB2_8Setelah berputar-putar gak jelas mengelilingi jalan tol ibu kota untuk mengisi musim liburan bersama keluarga, lalu mampir di warung sea food pinggir jalan di bilangan Kalibata. Secara sekonyong-konyong saya tiba tiba sudah duduk manis bersama pacar saya di deretan kursi teater 21 untuk menonton Ketika Cinta Bertasbih 2 (KCB 2). Mungkin memang cara yang aneh untuk menonton sebuah film. Apalagi saya belum menyaksikan sequel pertama KCB dan saya juga belum rampung membaca novelnya Kang Abik yang mendasari film ini. Tapi, ya udah gak usah dibahas lebih jauh soal ini ya. hehehe..

Yang jelas, setelah duduk manis menunggu film ini hingga diputar, sampai credit title mengalir di akhir film saya cukup kaget juga dengan reaksi penonton selama menyaksikan film yang , menurut saya setidaknya, cukup responsif. Ditandai dengan beberapa kali derai tawa dan momen keharuan mengiringi yang menghiasi beberapa scene dalam KCB 2. Apalagi mengingat film KCB 2 ini kan kadung dikatagorisasi sebagian orang sebagai film Islam, film dakwah yang konotasinya “berat”.

Menikmati KCB 2 buat saya memberi sedikit kejutan tentang “semacam keberhasilan” film sejenis ini untuk kembali menyedot perhatian khalayak untuk meluangkan waktu mereka bersama keluarga menyaksikan karya Chaerul Umam ini. Memang belum sefenomenal Ayat-ayat Cinta rasanya. Namun KCB 2 seperti menunjukkan semakin “pandainya” orang-orang film mempertemukan formulasi antara sebuah konten bermuatan “Islam” dengan “selera” khalayak yang memang menjadi target dari sebuah film.

Sebuah kompromi budaya dan ideologis (plus komersialisasi)? Bolehlah dibilang begitu, namun mungkin itulah yang dilakukan, koreksi saya jika salah, para Wali Songo saat pertama kali untuk menterjemahkan konten Islam yang kelihatan “berat” menjadi seolah “renyah untuk dikunyah” masyarakat awam ke dalam beragam budaya lokal, seperti wayang misalnya. Kalo dulu digunakan metode carangan dalam wayang, maka sekarang sepertinya semacam “formulasi sinetron”-lah yang digunakan. Hehehe. Bener gak sih?

Pendekatan budaya yang memang bisa jadi lebih “termakan” oleh banyak orang. Yang dengan menyaksikan KCB 2 ini, tak ada ruang lagi misalnya bagi masyarakat banyak mengaitkan Islam dengan radikalisme atau bahkan terorisme. Lagian, siapa yang mau mengaitkan figur yang ada dalam KCB 2 semacam Asmirandah atau Dude Harlino dengan misalnya Nordin M Top atau DR. Azhari.

Sebagai penonton awam, saya sangat memujiken lakon beberapa pemain dalam KCB 2 ini. Sebut saja misalnya peran Ninik L Karim yang begitu apik berperan sebagai seorang mbok Malikatun pembuat batik yang dari Kutoarjo. Walau terlihat masih agak terlalu ningrat buat saya.

Oh iya, juga yang patut dipujikan dan membuat terkesan menurut saya adalah pemeran sopir Eliana yang rasanya mantab sekali berperan sebagai sopir walau hanya terlihat beberapa scene dan hanya mengucapkan beberapa patah kata. Seorang sopir dengan penampilannya begitu mengesankan. Siapakah sang sopir itu? Setelah saya browse di dunia maya, ternyata ada juga profil sang sopir ini di facebook.

Saya berharap moga-moga pemeran sopir Eliana ini akan mendapat peran yang lebih besar lagi nantinya. Amin! Terutama jika nanti ada sequel film Ketika Cinta Bertakbir. Kalo filmya ada loh!

Buat saya film ini sangat direkomendasikan untuk ditonton, terutama oleh pasangan yang sudah lama tak menyisihkan waktu berdua saja dengan mantan pacarnya. Atau buat siapa sajalah yang ingin menyaksikan hiburan alternatif yang sehat menurut saya.

Daripada nonton film horor yang gak jelas, udah bayar ditakut-takutin pula! Halah! Hehehe..

Resensi yang aneh ya? Hehehe…

boy hamidy
orang biasa yang juga penikmat film. :P

Up: Pesan untuk para Ayah (dan Suami)

August 8, 2009 - One Response

upSudah menonton film Up? Buat saya Up adalah satu dari sekian film anak-anak, yang memang bertujuan menghibur, yang ternyata juga dapat menciptakan keharuan dan sebuah perenungan sederhana.

Resensi singkatnya dari situs 21 kurang lebih seperti ini: Carl Fredricksen (Edward Asner), kakek berusia 78 tahun, seorang pedagang balon memutuskan untuk mewujudkan mimpinya berpetualang dengan mengikatkan ribuan balon pada rumahnya dan terbang menuju Amerika Selatan. Namun rencananya menjadi mimpi buruk saat ia mengetahui bahwa seorang anak berusia 8 tahun bernama Russell (Jordan Nagai) ikut bersamanya.

Tapi buat saya, Up bukan sebuah film anak biasa. Ada pesan yang terselip buat para Ayah (dan Suami) yang kebetulan terpaksa menonton film animasi yang disutradarai Pete Docter ini. Lihat saja bagian awal film berdurasi 96 menit ini. Prolog film yang menceritakan perjalanan hidup Fredricksen bersama sang Istri Ellie. Ini menjadi keharuan pertama yang menurut saya sepertinya memang dipersembahkan untuk para orang tua yang mendampingi sang anak menyaksikan film ini.

Sebuah prolog yang menurut saya, secara manis berhasil menggambarkan tentang cinta, kesetiaan dan kesederhanaan pasangan Ellie dan Fredricksen. Sebuah bagian yang mungkin akan membuat anda menggengam jemari pasangan Anda kalau kebetulan menonton bersama.

Dan menurut Up, Anda dapat bahagia dengan kesetiaan dalam kesederhanaan.

Up mungkin juga sedang menggali sebuah kondisi sosial yang terjadi di Amerika tentang maraknya keluarga single parent, yang secara tak langsung menghadirkan tipikal anak dengan bangun kejiwaan seperti Russel: lugu, lucu, bawel namun memendam kesepian yang dalam. Russel, seorang pramuka yang ingin melengkapi emblem kepanduannya, menyimpan kerinduan yang sangat terhadap kehadiran seorang ayah. Hidup memang tetap berjalan bagi anak dengan orang tua tunggal. Tapi ada kekosongan yang mungkin tak akan pernah terisi dalam kehidupan sang anak dengan sulitnya menghadirkan sosok sang ayah dalam hidupnya.

Up bukan hanya menghibur, tapi menambahkannya dengan pesan buat para ayah (dan suami). Pesan sederhana tentang janji, kesetiaan dan cinta.

boy hamidy
orang biasa yang juga penikmat film :)

Knowing: Mimpi Subtil seorang Proyas

May 13, 2009 - 2 Responses

Menemukan film Holywood bertema subtil memang bisa membilang jari. Salah satunya mungkin adalah Knowing, dirilis Maret 2009, yang merupakan karya sineas Australia berdarah Yunani kelahiran Mesir, Alex Proyas.

Knowing sejatinya mengajukan pertanyaan rumit kepada penonton tentang hal mendasar yang berkait dengan eksistensi keberadaan manusia dan kehidupan yang melingkupinya.

Film yang diangkat dari Novel Ryne Douglas Pearson ini menyajikan sebuah wacana unik tentang apakah alam ini memang tercipta dengan sebuah ‘tujuan’ atau hanya merupakan acakan dari berbagai kebetulan. Tema yang cukup berat bagi penikmat film pada umumnya.

Walau dimasukkan dalam genre film drama sci fi, buat saya Knowing sejatinya adalah sebuah film yang kental dengan spiritualisme. Sejak awal Proyas membangun kecemasan dalam keburaman yang introspektif yang terus menghantui penonton hingga akhir cerita. Opening film misalnya dibuka dengan satelit view ala google earth. Bumi di malam hari dengan kerlip lampu dan mobil yang berseliweran seperti kunang-kunang.

Simpel, tapi berhasil membangun sebuah kesan tentang betapa mikronya kehidupan. Dengan pemandangan semacam itu, yang juga sering kita temui saat pesawat landing dan take off, bagi sebagian orang mungkin membangun semacam konstelasi kejiwaan tentang ketakberartian hidup.

Cara Proyas membawa isu seputar determinisme dan chaost pun cukup bersahaja, dengan sebuah adegan saat John Koestler (Nicolas Cage), seorang professor astrofisika MIT, berdialog dengan mahasiswanya di sebuah kelas.

Yang menarik juga dalam Knowing adalah penggambaran yang begitu ‘brutal’ tentang kerapuhan manusia. Lihatlah bagaimana Proyas menggambarkan musibah-musibah yang diramalkan dalam angka-angka oleh seorang Lucinda. Belum pernah saya melihat penggambaran bencana yang begitu fokus pada para korban yang terbakar atau terbentur luruh seperti anai-anai seperti yang digambarkan Proyas. Manusia betul-betul digambarkan sebagai obyek tanpa daya saat menghadapi sebuah bencana dan kematian.

Pearson juga banyak memunculkan simbolisasi yang dianggap sebagai ‘penyusupan’, nilai timur ke dalam sebuah mesin mimpi -yang kita sebut film- yang diproduksi barat. Bahkan ada sebagian orang yang bilang Knowing juga mendekonstruksi anggapan umum manusia barat tentang hidup yang bukan apa-apa dan ‘tidak kemana-mana’ kepada sesuatu yang ‘bertujuan’. Lihatlah bagaimana Proyas menggambarkan para ‘pembisik’ sebagai mahluk yang berwujud asli dominan berupa ‘cahaya’.  Mirip penggambaran malaikat dalam kultur timur. 

Bagi saya, penerjemahan Proyas terhadap ide Pearson tentang ‘dunia baru’ bagi ‘yang terpilih’  juga begitu menakjubkan. Sebuah gambaran yang mendekati surga dengan sebuah pohon besar kehidupan yang bertelekan sungai di bawahnya, juga konsep yang kental nuansa timurnya.

Sebuah film yang buat saya memberikan nilai lain dari sekedar rehat dan hiburan.

boy hamidy
orang biasa yang juga seorang penikmat film :P

Resensi lain mengenai Knowing klik di sini.

karakter pengupil…

April 21, 2009 - One Response

Mengupil (kk) : kegiatan rutin manusia berupa aktifitas bebersih tubuh di bagian lubang hidung dari kotoran yang disebut upil (kb) dengan menggunakan alat bantu tertentu, biasanya jari tangan. 

Bagi sebagian orang mengupil bisa menjadi kegiatan adiktif.

Menurut sebuah forum web kesehatan, upil berasal dari kotoran dan sisa ingus yang mengering di rongga hidung bagian luar. Karena banyak mengandung kotoran maka upil tidak baik untuk dikonsumsi.  Upil memang harus dibersihkan karena memang tidak bermanfaat malah menganggu fungsi rambut yang ada di rongga hidung untuk menyaring kotoran.

Menurut laporan sebagian orang yang pernah merasakannya, rasa upil adalah asin, yang menunjukkan adanya kandungan garam yang signifikan dalam upil. Penulis belum pernah menemukan hasil ukur berapa kadar salinitas rata-rata upil manusia.

Berikut analisa karakter pengupil. Walau re-post, namun masih bisa bikin mesem dan senyum simpul. Hehehe..

Selamat mengupil.

1.Orang yang taat beragama, berdoa dulu sebelum ngupil

2. Orang yang tidak berpendidikan, Menggunakan jari orang lain untuk ngupil.

3. Orang yang suka ganti suasana, Selalu menggunakan jari yang berbeda tiap kali ngupil

4. Orang yang menganggap waktu adalah uang, Kalo ngupil, 2 lobang sekaligus (Sekali mendayung, 2 pulau terlampaui)

5. Orang yang perfeksionis, Kalo mau ngupil ia mencuci tangannya sampai bersih. Setelah ngupil, tangannya dicuci lagi, dan hidungnya dikompres dengan alkohol, untuk mencegah terjadinya infeksi karena saat ngupil, bisa saja jari tangan melukai hidung

6. Orang yang berlibido tinggi, Saat ngupil, jarinya di masukkan dan dikeluarkan dan dimasukkan dan dikeluarkan dan di masukkan dan dikeluarkan dan di masukkan dan dikeluarkan dan di masukkan dan dikeluarkan dan di masukkan dan dikeluarkan dan dimasukkan dan dikeluarkan sampai keluar lendir.

7. Orang yang tidak berpendidikan tapi punya sopan santun, Menggunakan jari orang lain untuk ngupil, dan mengucapkan terima kasih setelah selesai.

8. Orang yang inovatif, Menggunakan jari kaki untuk ngupil

9. Orang berjiwa samurai, Saat ngupil, jari dimasukkan ke hidung, ditarik ke atas, diturunkan kebawah,tarik ke kiri kemudian tarik ke kanan.

10. Orang yang suka petualangan, Selalu mencoba untuk meraih celah yang tak pernah diraih tiap kali ngupil.

11. Orang yang mempunyai time-management yang tinggi, Ada jadwal tuk ngupil per minggu, dan selang waktu untuk ngupil tiap kali ngupil

12. Orang yang bagaikan punguk merindukan bulan, Mencoba untuk melompat lompat, dan mengharapkan upilnya akan turun dengan sendirinya.

13. Orang yang punya kecenderungan “Psychopath” , Hanya akan berhenti ngupil setelah hidungnya berdarah.

14. Orang yang nggak tahan digelitik, Sambil ngupil, sambil tertawa.

15. Orang yang mengikuti perkembangan teknologi, Ngupil dengan memakai antenna handphone.

16. Orang yang nggak mau menghabiskan waktu untuk melakukan hal sia-sia, Membuka lebar hidungnya dan menyuruh orang lain untuk mengintip apakah ada upil di dalam, karena nggak mau sia-sia masukin jari ke hidung tapi ternyata nggak ada upil.

17. Orang yang berjiwa oriental, Menggunakan sumpit untuk ngupil

18. Orang yang pilih kasih, Hanya ngupil lobang hidung sebelah kiri, sedangkan yang kanan dibiarkan begitu saja.

19. Orang yang adil, arif dan bijaksana, Kalo upil dari lobang hidung sebelah kiri lebih banyak dibanding upil dari hidung sebelah kanan, maka dia akan masukkan sedikit upil dari lobang hidung sebelah kiri kedalam lobang hidung sebelah kanan, baru mulai ngupil lagi

20. Orang yang plin plan, alias baru makan buah simalakama, Ngupil salah, nggak ngupil salah, ngupil salah, nggak ngupil salah

21. Orang yang latah, Saat kuku tangan tanpa sengaja melukai hidung, maka dia akan berteriak “EH MAMA KU UPIL EH UPIL KU MAMA”

22. Orang yang pelupa, Saat jari tangan sudah di dalam hidung, sesaat dia lupa apa yang ingin dia lakukan dengan memasukkan jari ke hidung.

23. Orang yang ceroboh, Orang yang setelah selesai ngupil lobang hidung sebelah kiri, kemudian lupa untuk ngupil lobang hidung sebelah kanan.

24. Orang yang punya kecenderungan “Copy Cat”, Setelah ngupil, dia akan berkata; “Ngupil? Siapa takut…”

sumber: Milis SMALAM – aldo freederix dikutip dari sini

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.