KDL!

Waktu saya membaca Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari, yang saya pinjam dari kritikus komik Hikmat Dharmawan. Saya terkesan sekali dengan opening yang ditampilkan penulis. Sebuah gambaran yang absurd tentang kemiskinan di sebuah kampung Indonesia.

Yang kerontang, tandus, berdebu dan suram tentunya. Sekelompok anak yang mencabut singkong dengan cara mengencingi pokok pohon adalah sebuah gambaran yang benar-benar membetot perhatian.

Gambaran yang menghenyakkan tentang absurditas kemiskinan saya saksikan di dua film bertajuk City of Joy dan City of God dua film yang menggambarkan kemiskinan di dua dunia berkembang: India dan Brasil. Walau ada situasi yang mendekati di Indonesia (seperti operkampungan pengedar narkoba di tanah tinggi), saat itu saya masih berpikir bahwa kondisi absurd di kedua film itu rasanya “belum” ada di negeri ini. Hmmm..

Tapi, beberapa pekan ini, di berbagai media, saya “akhirnya” membaca dan menyaksikan absurditas yang menghenyakkan itu. Bahwa, ada rakyat negeri ini yang mulai makan nasi aking, telah menjadi situasi yang “biasa” buat sebagian orang. Tapi, ternyata kini sebagian masyarakat kita sudah mulai terbiasa mengunyah makanan kadaluarsa!

Bayangkan anak-anak kecil yang dengan muka polos mengunyah roti busuk yang berjamur. Atau seorang ibu yang menanak mie instan yang seharusnya dimusnahkan beberapa bulan atau beberapa tahun lalu.

Alasannya sangat sederhana, harga makanan sampah itu hanya sepertiga dari harga makanan normal! dan sistem di negeri ini tak mampu menghalangi para penjual makanan jenis ini yang seolah menjualnya seperti barang “normal” lainnya!

Kalau saja ada sineas yang mengangkat sebuah scene berdasar situasi ini, mungkin menjadi scene yang sama absurdnya buat saya seperti yang ada dalam film City Of Joy atau City Of God.

Memakan nasi aking (dalam batas tertentu) dan mngenakan baju bekas impor mungkin masih bisa “diterima” oleh sebagian kita. Tapi membeli lalu memakan makanan kadaluarsa yang hampir busuk dan berjamur adalah absurditas baru di negeri ini. Membuat negeri ini menjadi negeri yang semakin absurd…

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: