Up: Pesan untuk para Ayah (dan Suami)

upSudah menonton film Up? Buat saya Up adalah satu dari sekian film anak-anak, yang memang bertujuan menghibur, yang ternyata juga dapat menciptakan keharuan dan sebuah perenungan sederhana.

Resensi singkatnya dari situs 21 kurang lebih seperti ini: Carl Fredricksen (Edward Asner), kakek berusia 78 tahun, seorang pedagang balon memutuskan untuk mewujudkan mimpinya berpetualang dengan mengikatkan ribuan balon pada rumahnya dan terbang menuju Amerika Selatan. Namun rencananya menjadi mimpi buruk saat ia mengetahui bahwa seorang anak berusia 8 tahun bernama Russell (Jordan Nagai) ikut bersamanya.

Tapi buat saya, Up bukan sebuah film anak biasa. Ada pesan yang terselip buat para Ayah (dan Suami) yang kebetulan terpaksa menonton film animasi yang disutradarai Pete Docter ini. Lihat saja bagian awal film berdurasi 96 menit ini. Prolog film yang menceritakan perjalanan hidup Fredricksen bersama sang Istri Ellie. Ini menjadi keharuan pertama yang menurut saya sepertinya memang dipersembahkan untuk para orang tua yang mendampingi sang anak menyaksikan film ini.

Sebuah prolog yang menurut saya, secara manis berhasil menggambarkan tentang cinta, kesetiaan dan kesederhanaan pasangan Ellie dan Fredricksen. Sebuah bagian yang mungkin akan membuat anda menggengam jemari pasangan Anda kalau kebetulan menonton bersama.

Dan menurut Up, Anda dapat bahagia dengan kesetiaan dalam kesederhanaan.

Up mungkin juga sedang menggali sebuah kondisi sosial yang terjadi di Amerika tentang maraknya keluarga single parent, yang secara tak langsung menghadirkan tipikal anak dengan bangun kejiwaan seperti Russel: lugu, lucu, bawel namun memendam kesepian yang dalam. Russel, seorang pramuka yang ingin melengkapi emblem kepanduannya, menyimpan kerinduan yang sangat terhadap kehadiran seorang ayah. Hidup memang tetap berjalan bagi anak dengan orang tua tunggal. Tapi ada kekosongan yang mungkin tak akan pernah terisi dalam kehidupan sang anak dengan sulitnya menghadirkan sosok sang ayah dalam hidupnya.

Up bukan hanya menghibur, tapi menambahkannya dengan pesan buat para ayah (dan suami). Pesan sederhana tentang janji, kesetiaan dan cinta.

boy hamidy
orang biasa yang juga penikmat film🙂

One Response

  1. saya setuju dengan resensi ini…
    saya juga membuat blog tentang resensi film.. silakan dikunjungi.. mohon bantuannya untuk perbaikan saya ke depannya, bisa dengan menyetujui pendapat saya, menyangkal pendapat saya, mengkritik pendapat saya, dll… berhubung saya baru memulai dunia sebagai kritikus film.. jadi bukan kritikus profesional…
    blog saya:
    http://kritikpenonton.wordpress.com/

    terima kasih

    boy: terima kasih Mas Jiro atas komen-nya. Blog-nya sudah saya kunjungi, dan sangat menarik. Bisa menjadi referensi bagi penikmat film seperti saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: