Sekonyong- konyong KCB 2

PosterKCB2_8Setelah berputar-putar gak jelas mengelilingi jalan tol ibu kota untuk mengisi musim liburan bersama keluarga, lalu mampir di warung sea food pinggir jalan di bilangan Kalibata. Secara sekonyong-konyong saya tiba tiba sudah duduk manis bersama pacar saya di deretan kursi teater 21 untuk menonton Ketika Cinta Bertasbih 2 (KCB 2). Mungkin memang cara yang aneh untuk menonton sebuah film. Apalagi saya belum menyaksikan sequel pertama KCB dan saya juga belum rampung membaca novelnya Kang Abik yang mendasari film ini. Tapi, ya udah gak usah dibahas lebih jauh soal ini ya. hehehe..

Yang jelas, setelah duduk manis menunggu film ini hingga diputar, sampai credit title mengalir di akhir film saya cukup kaget juga dengan reaksi penonton selama menyaksikan film yang , menurut saya setidaknya, cukup responsif. Ditandai dengan beberapa kali derai tawa dan momen keharuan mengiringi yang menghiasi beberapa scene dalam KCB 2. Apalagi mengingat film KCB 2 ini kan kadung dikatagorisasi sebagian orang sebagai film Islam, film dakwah yang konotasinya “berat”.

Menikmati KCB 2 buat saya memberi sedikit kejutan tentang “semacam keberhasilan” film sejenis ini untuk kembali menyedot perhatian khalayak untuk meluangkan waktu mereka bersama keluarga menyaksikan karya Chaerul Umam ini. Memang belum sefenomenal Ayat-ayat Cinta rasanya. Namun KCB 2 seperti menunjukkan semakin “pandainya” orang-orang film mempertemukan formulasi antara sebuah konten bermuatan “Islam” dengan “selera” khalayak yang memang menjadi target dari sebuah film.

Sebuah kompromi budaya dan ideologis (plus komersialisasi)? Bolehlah dibilang begitu, namun mungkin itulah yang dilakukan, koreksi saya jika salah, para Wali Songo saat pertama kali untuk menterjemahkan konten Islam yang kelihatan “berat” menjadi seolah “renyah untuk dikunyah” masyarakat awam ke dalam beragam budaya lokal, seperti wayang misalnya. Kalo dulu digunakan metode carangan dalam wayang, maka sekarang sepertinya semacam “formulasi sinetron”-lah yang digunakan. Hehehe. Bener gak sih?

Pendekatan budaya yang memang bisa jadi lebih “termakan” oleh banyak orang. Yang dengan menyaksikan KCB 2 ini, tak ada ruang lagi misalnya bagi masyarakat banyak mengaitkan Islam dengan radikalisme atau bahkan terorisme. Lagian, siapa yang mau mengaitkan figur yang ada dalam KCB 2 semacam Asmirandah atau Dude Harlino dengan misalnya Nordin M Top atau DR. Azhari.

Sebagai penonton awam, saya sangat memujiken lakon beberapa pemain dalam KCB 2 ini. Sebut saja misalnya peran Ninik L Karim yang begitu apik berperan sebagai seorang mbok Malikatun pembuat batik yang dari Kutoarjo. Walau terlihat masih agak terlalu ningrat buat saya.

Oh iya, juga yang patut dipujikan dan membuat terkesan menurut saya adalah pemeran sopir Eliana yang rasanya mantab sekali berperan sebagai sopir walau hanya terlihat beberapa scene dan hanya mengucapkan beberapa patah kata. Seorang sopir dengan penampilannya begitu mengesankan. Siapakah sang sopir itu? Setelah saya browse di dunia maya, ternyata ada juga profil sang sopir ini di facebook.

Saya berharap moga-moga pemeran sopir Eliana ini akan mendapat peran yang lebih besar lagi nantinya. Amin! Terutama jika nanti ada sequel film Ketika Cinta Bertakbir. Kalo filmya ada loh!

Buat saya film ini sangat direkomendasikan untuk ditonton, terutama oleh pasangan yang sudah lama tak menyisihkan waktu berdua saja dengan mantan pacarnya. Atau buat siapa sajalah yang ingin menyaksikan hiburan alternatif yang sehat menurut saya.

Daripada nonton film horor yang gak jelas, udah bayar ditakut-takutin pula! Halah! Hehehe..

Resensi yang aneh ya? Hehehe…

boy hamidy
orang biasa yang juga penikmat film.😛

One Response

  1. assalamu’alaykum…
    awalnya sy tdk trlalu tertarik nonton KCB 2, dulu pun KCB 1 nonton krn penasaran ingin liat Universitas al Azhar yg katanya dijadikan tempat shooting. tp setelah melalui berbagai bujukan akhirnya luluh juga utk nonton bareng tmn2.
    kesan yg tertinggal di benak sy adalah munculnya sebuah harapan kebangkitan syi’ar Islam melalui jalur hiburan smacam ini, hmpir sama seperti Boy Hamidy, sy pun terkejut dgn antusias penonton, terutama kalangan anak muda. moga ini jadi awal yg baik…

    boy: terima kasih mas Girjay, atas komentnya. moga-moga makin memperkaya warna budaya Indonesia yang kita cinta. Semoga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: