Archive for the ‘Gumam’ Category

nasehat sunyi
April 19, 2009

 

nasehat sunyi

nasehat sunyi

Seorang ibu yang baik wafat hari ini. Lalu orang berjejal menyolatkannya di sebuah mesjid. Seorang ibu yang baik wafat hari ini. Lalu orang banyak dengan sukarela berbondong mendoakannya dengan ketulusan dan mengantarkannya hingga ke liang lahat. Meninggalkan kenangan dan sebuah nasehat.

 

Ya sebuah nasehat, seperti yang disampaikan khatib tua sebelum sholat jenazah dimulai. Nasehat yang pertama terus berbicara hingga saat ini kepada kita. Termaktub dalam kitab suci yang mungkin telah lama tak kita baca.

Nasehat lainnya, berbunyi sunyi di hadapan kita. Nasehat diam dengan kematian kerabat, orang terdekat atau siapapun yang kita lihat.

Nasehat sunyi, adakah kita mendengarkannya?

Nasehat sunyi yang hanya berbunyi dalam diam namun memberikan palung makna yang begitu dalam buat mereka yang mau membacanya dengan seksama.

Advertisements

lubang di jalan
April 15, 2009

Jika Anda adalah seorang pemimpin sebuah negara atau daerah, atau pemimpin sebuah instansi terkait, apa sih yang ada di kepala Anda ketika melihat sebuah lubang menganga di jalan?

Terganggukah Anda dengan lubang tersebut? Terpikirkah akibat yang bisa ditimbulkan sang lubang bagi ‘rakyat’ Anda yang kebetulan melintas?

Lubang di jalan bukan semata terkait aspek keteknisan, namun bisa mengakibatkan kecelakaan yang berujung pada tragedi bagi yang mengalaminya. Dengan akibat-akibat lanjutan yang bisa menimpa keluarga sang korban.

Mungkin terlalu muluk di negeri ini untuk mengharapkan seorang pemimpin menjadi insomnia atau minimal bersusah hati, hanya karena melihat sebuah lubang di jalan.

Bukan hanya lubang di jalan, banyak hal lain yang mempunyai dampak sejenis ada di sekitar kita yang seolah jauuuh  dan tak terjamah dari jangkauan mereka yang diamanahkan untuk mengurusinya. Baik di pemerintahan, legislatif maupun aparat terkait lainnya.

Coba perhatikan betapa aspek keselamatan begitu terabaikan dalam fasilitas publik kita. Dari jembatan penyeberangan yang menganga atau tiang listrik yang terkadang berdiri sembarangan di badan jalan. Akan menjadi daftar panjang jika kita ingin sebutkan.

Lubang di jalan dan hal-hal lain itu memang bukan sekedar aspek teknis atau manajerial belaka. Tapi sebuah tanda paling gamblang, betapa remeh dan tak pentingnya nasib kita sebagai rakyat di mata para penguasa.

Jadi, maap saja, jangan terlalu muluk berharap ada pemimpin negeri ini yang berhati resah atau gundah jika melihat ada sebuah lubang menganga di tengah jalan… Walau korban sering berjatuhan.

Iya nggak sih?

===

gambar diambil dari blog ini

KDL!
July 29, 2008

Waktu saya membaca Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari, yang saya pinjam dari kritikus komik Hikmat Dharmawan. Saya terkesan sekali dengan opening yang ditampilkan penulis. Sebuah gambaran yang absurd tentang kemiskinan di sebuah kampung Indonesia.

Yang kerontang, tandus, berdebu dan suram tentunya. Sekelompok anak yang mencabut singkong dengan cara mengencingi pokok pohon adalah sebuah gambaran yang benar-benar membetot perhatian.

Gambaran yang menghenyakkan tentang absurditas kemiskinan saya saksikan di dua film bertajuk City of Joy dan City of God dua film yang menggambarkan kemiskinan di dua dunia berkembang: India dan Brasil. Walau ada situasi yang mendekati di Indonesia (seperti operkampungan pengedar narkoba di tanah tinggi), saat itu saya masih berpikir bahwa kondisi absurd di kedua film itu rasanya “belum” ada di negeri ini. Hmmm..

Tapi, beberapa pekan ini, di berbagai media, saya “akhirnya” membaca dan menyaksikan absurditas yang menghenyakkan itu. Bahwa, ada rakyat negeri ini yang mulai makan nasi aking, telah menjadi situasi yang “biasa” buat sebagian orang. Tapi, ternyata kini sebagian masyarakat kita sudah mulai terbiasa mengunyah makanan kadaluarsa!

Bayangkan anak-anak kecil yang dengan muka polos mengunyah roti busuk yang berjamur. Atau seorang ibu yang menanak mie instan yang seharusnya dimusnahkan beberapa bulan atau beberapa tahun lalu.

Alasannya sangat sederhana, harga makanan sampah itu hanya sepertiga dari harga makanan normal! dan sistem di negeri ini tak mampu menghalangi para penjual makanan jenis ini yang seolah menjualnya seperti barang “normal” lainnya!

Kalau saja ada sineas yang mengangkat sebuah scene berdasar situasi ini, mungkin menjadi scene yang sama absurdnya buat saya seperti yang ada dalam film City Of Joy atau City Of God.

Memakan nasi aking (dalam batas tertentu) dan mngenakan baju bekas impor mungkin masih bisa “diterima” oleh sebagian kita. Tapi membeli lalu memakan makanan kadaluarsa yang hampir busuk dan berjamur adalah absurditas baru di negeri ini. Membuat negeri ini menjadi negeri yang semakin absurd…

Lagu Relevan buat Pejabat Penyanyi
July 2, 2008

Lagi ingat lagu Iwan Fals yang rasanya relevan dinyanyikan saat-saat ini. Lagu yang, paling nggak buat saya pribadi: tajam, bermakna dan nendang banget saat merefleksikannya pada kondisi negeri kita saat ini.

Lagu yang rasanya bisa menggantikan pidato berbusa tentang idealisme dan nurani. Tentang keberpihakan dan kepedulian pada rakyat jelata. Lagu yang ‘cukup’, jika saja mau dimaknai oleh mereka yang kebetulan sedang diberikan amanah, siapa saja, di mana saja.

Lagu yang juga relavan. terutama untuk dinyanyikan oleh para pejabat yang suka menyanyi bahkan sampai bikin album segala. Bagus banget kalo para pejabat itu mau menyisipkan lagu ini dalam album mereka. Mungkin jadi lebih menambah ‘bobot’ album daripada sekedar bertajuk ‘rinduku padamu’. Hehehe…

Apa mungkin? Apa Mau?

***

Kesaksian

Iwan Fals

aku mendengar suara

jerit makhluk terluka

luka, luka

hidupnya

luka

 

orang memanah rembulan

burung sirna sarangnya

sirna, sirna

hidup redup

alam semesta

luka

 

banyak orang

hilang nafkahnya

aku bernyanyi

menjadi saksi

 

banyak orang

dirampas haknya

aku bernyanyi

menjadi saksi

 

mereka

dihinakan

tanpa daya

ya, tanpa daya

terbiasa hidup

sangsi

 

orang-orang

harus dibangunkan

aku bernyanyi

menjadi saksi

 

kenyataan

harus dikabarkan

aku bernyanyi

menjadi saksi

 

lagu ini

jeritan jiwa

hidup bersama

harus dijaga

 

lagu ini

harapan sukma

hidup yang layak

harus dibela

 

***

 

Selamat menyanyi, walau hanya dalam hati…

 

diambil dari

http://rinangxu.wordpress.com/2007/03/05/iwan-fals-lirik/

Kaos di kaki
May 23, 2008

Ini barang remeh-temeh yang aneh, dibeli untuk ditutup sepatu. Semahal apapun kaos kaki, jarang terlihat kecuali si pemakai duduk dengan cara tertentu.

Dulu, setidaknya sewaktu saya SD, kaos kaki muncul dengan model yang sama. Berujung satu, membuat jemari kaki tak terihat betuknya.

Sekarang, kaos kaki punya banyak tipe dan jenis. Ada yang berujung bak kaki sapi dengan slot untuk jempol terpisah. Ada yang memiliki slot untuk masing-masing jari. bahkan ada yang bisa tetap digunakan ketika berwudhu. Weleh. Hehehe

 

Di dunia sinetron, bahkan ada sinetron yang judulnya “Eneng dan Kaos kaki Ajaib”.

Anak-anak di TK tempat istri saya bekerja selalu senang banget kalo ibu gurunya mulai menggelar panggung boneka dengan boneka kaos kaki beraneka rupa.

08052008Kaos kaki, memang benda yang ‘kurang beruntung’, jarang tampil namun terkenal dengan istilah bau kaos kaki.

Benda yang konon kata wiki sudah dipakai sejak Abad 8 SM oleh bangsa Roma ini memang menyenangkan dikenakan terutama untuk para musafir yang suka wira-wiri ke berbagai tempat. Kaos kaki juga pernah menjadi simbol kesucian dari seorang Paus di abad ke 5. Kaum bangsawan di tahun 1000-an  menganggap kaos kaki sebagai simbol berharga yang perlu dikenakan. kaos kaki nilon yang sampe sekarang banyak bertengger di banyak kaki orang diproduksi pada tahun 1939.

Kalo saya, seneng banget dengan model kaos kaki yang punya slot untuk setiap jari. Rasanya klop, pas. Bukan hanya buat pake sepatu, bisa juga dipakai untuk bersendal jepit ria. Kaos kaki favorit saya kebetulan berwarna jreng. Norak sih! Hehehe. Tapi enak untuk dipakai ke mana saja.

Norak tapi nyaman. Gimana lagi? Hehehe.