Archive for the ‘Sosial’ Category

Up: Pesan untuk para Ayah (dan Suami)
August 8, 2009

upSudah menonton film Up? Buat saya Up adalah satu dari sekian film anak-anak, yang memang bertujuan menghibur, yang ternyata juga dapat menciptakan keharuan dan sebuah perenungan sederhana.

Resensi singkatnya dari situs 21 kurang lebih seperti ini: Carl Fredricksen (Edward Asner), kakek berusia 78 tahun, seorang pedagang balon memutuskan untuk mewujudkan mimpinya berpetualang dengan mengikatkan ribuan balon pada rumahnya dan terbang menuju Amerika Selatan. Namun rencananya menjadi mimpi buruk saat ia mengetahui bahwa seorang anak berusia 8 tahun bernama Russell (Jordan Nagai) ikut bersamanya.

Tapi buat saya, Up bukan sebuah film anak biasa. Ada pesan yang terselip buat para Ayah (dan Suami) yang kebetulan terpaksa menonton film animasi yang disutradarai Pete Docter ini. Lihat saja bagian awal film berdurasi 96 menit ini. Prolog film yang menceritakan perjalanan hidup Fredricksen bersama sang Istri Ellie. Ini menjadi keharuan pertama yang menurut saya sepertinya memang dipersembahkan untuk para orang tua yang mendampingi sang anak menyaksikan film ini.

Sebuah prolog yang menurut saya, secara manis berhasil menggambarkan tentang cinta, kesetiaan dan kesederhanaan pasangan Ellie dan Fredricksen. Sebuah bagian yang mungkin akan membuat anda menggengam jemari pasangan Anda kalau kebetulan menonton bersama.

Dan menurut Up, Anda dapat bahagia dengan kesetiaan dalam kesederhanaan.

Up mungkin juga sedang menggali sebuah kondisi sosial yang terjadi di Amerika tentang maraknya keluarga single parent, yang secara tak langsung menghadirkan tipikal anak dengan bangun kejiwaan seperti Russel: lugu, lucu, bawel namun memendam kesepian yang dalam. Russel, seorang pramuka yang ingin melengkapi emblem kepanduannya, menyimpan kerinduan yang sangat terhadap kehadiran seorang ayah. Hidup memang tetap berjalan bagi anak dengan orang tua tunggal. Tapi ada kekosongan yang mungkin tak akan pernah terisi dalam kehidupan sang anak dengan sulitnya menghadirkan sosok sang ayah dalam hidupnya.

Up bukan hanya menghibur, tapi menambahkannya dengan pesan buat para ayah (dan suami). Pesan sederhana tentang janji, kesetiaan dan cinta.

boy hamidy
orang biasa yang juga penikmat film šŸ™‚

Advertisements

Knowing: Mimpi Subtil seorang Proyas
May 13, 2009

Menemukan film Holywood bertema subtil memang bisa membilang jari. Salah satunya mungkin adalah Knowing, dirilis Maret 2009, yang merupakan karya sineas Australia berdarah Yunani kelahiran Mesir, Alex Proyas.

Knowing sejatinya mengajukan pertanyaan rumit kepada penonton tentang hal mendasar yang berkait dengan eksistensi keberadaan manusia dan kehidupan yang melingkupinya.

Film yang diangkat dari Novel Ryne Douglas Pearson ini menyajikan sebuah wacana unik tentang apakah alam ini memang tercipta dengan sebuah ‘tujuan’ atau hanya merupakan acakan dari berbagai kebetulan. Tema yang cukup berat bagi penikmat film pada umumnya.

Walau dimasukkan dalam genre film drama sci fi, buat saya Knowing sejatinya adalah sebuah film yang kental dengan spiritualisme. Sejak awal Proyas membangun kecemasan dalam keburaman yang introspektif yang terus menghantui penonton hingga akhir cerita. Opening film misalnya dibuka dengan satelit view ala google earth. Bumi di malam hari dengan kerlip lampu dan mobil yang berseliweran seperti kunang-kunang.

Simpel, tapi berhasil membangun sebuah kesan tentang betapa mikronya kehidupan. Dengan pemandangan semacam itu, yang juga sering kita temui saat pesawat landing dan take off, bagi sebagian orang mungkin membangun semacam konstelasi kejiwaan tentang ketakberartian hidup.

Cara Proyas membawa isu seputar determinisme dan chaost pun cukup bersahaja, dengan sebuah adegan saat John Koestler (Nicolas Cage), seorang professor astrofisika MIT, berdialog dengan mahasiswanya di sebuah kelas.

Yang menarik juga dalam Knowing adalah penggambaran yang begitu ‘brutal’ tentang kerapuhan manusia. Lihatlah bagaimana Proyas menggambarkan musibah-musibah yang diramalkan dalam angka-angka oleh seorang Lucinda. Belum pernah saya melihat penggambaran bencana yang begitu fokus pada para korban yang terbakar atau terbentur luruh seperti anai-anai seperti yang digambarkan Proyas. Manusia betul-betul digambarkan sebagai obyek tanpa daya saat menghadapi sebuah bencana dan kematian.

Pearson juga banyak memunculkan simbolisasi yang dianggap sebagai ‘penyusupan’, nilai timur ke dalam sebuah mesin mimpi -yang kita sebut film- yang diproduksi barat. Bahkan ada sebagian orang yang bilang Knowing juga mendekonstruksi anggapan umum manusia barat tentang hidup yang bukan apa-apa dan ‘tidak kemana-mana’ kepada sesuatu yang ‘bertujuan’. Lihatlah bagaimana Proyas menggambarkan para ‘pembisik’ sebagai mahluk yang berwujud asli dominan berupa ‘cahaya’. Ā Mirip penggambaran malaikat dalam kultur timur.Ā 

Bagi saya, penerjemahan Proyas terhadap ide Pearson tentang ‘dunia baru’ bagi ‘yang terpilih’ Ā juga begitu menakjubkan. Sebuah gambaran yang mendekati surga dengan sebuah pohon besar kehidupan yang bertelekan sungai di bawahnya, juga konsep yang kental nuansa timurnya.

Sebuah film yang buat saya memberikan nilai lain dari sekedar rehat dan hiburan.

boy hamidy
orang biasa yang juga seorang penikmat film šŸ˜›

Resensi lain mengenai Knowing klik di sini.

KDL!
July 29, 2008

Waktu saya membaca Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari, yang saya pinjam dari kritikus komik Hikmat Dharmawan. Saya terkesan sekali dengan opening yang ditampilkan penulis. Sebuah gambaran yang absurd tentang kemiskinan di sebuah kampung Indonesia.

Yang kerontang, tandus, berdebu dan suram tentunya. Sekelompok anak yang mencabut singkong dengan cara mengencingi pokok pohon adalah sebuah gambaran yang benar-benar membetot perhatian.

Gambaran yang menghenyakkan tentang absurditas kemiskinan saya saksikan di dua film bertajuk City of Joy dan City of God dua film yang menggambarkan kemiskinan di dua dunia berkembang: India dan Brasil. Walau ada situasi yang mendekati di Indonesia (seperti operkampungan pengedar narkoba di tanah tinggi), saat itu saya masih berpikir bahwa kondisi absurd di kedua film itu rasanya “belum” ada di negeri ini. Hmmm..

Tapi, beberapa pekan ini, di berbagai media, saya “akhirnya” membaca dan menyaksikan absurditas yang menghenyakkan itu. Bahwa, ada rakyat negeri ini yang mulai makan nasi aking, telah menjadi situasi yang “biasa” buat sebagian orang. Tapi, ternyata kini sebagian masyarakat kita sudah mulai terbiasa mengunyah makanan kadaluarsa!

Bayangkan anak-anak kecil yang dengan muka polos mengunyah roti busuk yang berjamur. Atau seorang ibu yang menanak mie instan yang seharusnya dimusnahkan beberapa bulan atau beberapa tahun lalu.

Alasannya sangat sederhana, harga makanan sampah itu hanya sepertiga dari harga makanan normal! dan sistem di negeri ini tak mampu menghalangi para penjual makanan jenis ini yang seolah menjualnya seperti barang “normal” lainnya!

Kalau saja ada sineas yang mengangkat sebuah scene berdasar situasi ini, mungkin menjadi scene yang sama absurdnya buat saya seperti yang ada dalam film City Of Joy atau City Of God.

Memakan nasi aking (dalam batas tertentu) dan mngenakan baju bekas impor mungkin masih bisa “diterima” oleh sebagian kita. Tapi membeli lalu memakan makanan kadaluarsa yang hampir busuk dan berjamur adalah absurditas baru di negeri ini. Membuat negeri ini menjadi negeri yang semakin absurd…

Barito
January 18, 2008

Pasar kembang dan ikan hias Barito akhirnya digusur hari Jumat, 18/1. Pasar yang menjadi salah satu ikon tempat belanja bunga dan ikan hias di Jakarta itu akhirnya luruh di terjang buldozer dengan pagar betis aparat. Ini salah satu foto yang sempat saya ambil saat melewati Barito yang telah luruh.

Mesjid di Atas Pasar Tenabang
January 6, 2008

Salah satu keluhan banyak orang tentang fasilitas publik kita adalah keberadaan tempat ibadah yang kerap hanya jadi sekedar ornamenĀ pinggiran belaka.

Biasanya diletakkan di pojok, ujung yang berkelok dengan jalan yang gelap dan kadang becek. Dinding dengan warna pupus, lampu temaran dan karpet menghitam yang lusuh dan bau menjadi ciri umum musholla atau mesjid yang ada di tempat publik seperti mall, plaza, pasar, kantor dan sebagainya.

Katanya, itu juga adalah sebuah isyarat bagaimana manusia modern di perkotaan memposisikan Tuhan dalam hati mereka: di pojok relung hati yang tersembunyi hingga nyaris tak terasa lagi. Itu katanya. Benarkah? Wallahu’alam.

Ā Tapi di Pasar Tanah Abang, beberapa waktu lalu saya menemukan yang sedikit berbeda.

Di atap gedung, ternyata ada sebuah mesjid yang berbeda dariĀ kondisi tempat ibadah diĀ tempat publik pada umumnya.

Mesjid di atap pasar Tanah Abang terlihat bersih, rapi, indah, resik, nyaman dan aman.

Sebuah pemandangan yang menyejukkan tentunya. Kepenatan kehidupan di sebuah pasar ditemani dengan ‘ademnya’ suasana mesjid yang ada di atasnya.

Boleh juga jika ada lembaga yang memberikan penghargaan untuk Pasar Tanah Abang untuk sebuah mesjid resik yang ada di atapnya.

Saya percaya, mesjid membawa aura positif bagi sebuah lokasi. Mudah-mudahan saja, dengan adanya sebuah mesjid di atas sebuah pasar, hilang pula secara perlahan wajah lain sebuah pasar yang biasanya dibumbui kecurangan sampai penipuan. Hehehe…

Mudah-mudahan. Berharap boleh kan?