nasehat sunyi

April 19, 2009 - Leave a Response

 

nasehat sunyi

nasehat sunyi

Seorang ibu yang baik wafat hari ini. Lalu orang berjejal menyolatkannya di sebuah mesjid. Seorang ibu yang baik wafat hari ini. Lalu orang banyak dengan sukarela berbondong mendoakannya dengan ketulusan dan mengantarkannya hingga ke liang lahat. Meninggalkan kenangan dan sebuah nasehat.

 

Ya sebuah nasehat, seperti yang disampaikan khatib tua sebelum sholat jenazah dimulai. Nasehat yang pertama terus berbicara hingga saat ini kepada kita. Termaktub dalam kitab suci yang mungkin telah lama tak kita baca.

Nasehat lainnya, berbunyi sunyi di hadapan kita. Nasehat diam dengan kematian kerabat, orang terdekat atau siapapun yang kita lihat.

Nasehat sunyi, adakah kita mendengarkannya?

Nasehat sunyi yang hanya berbunyi dalam diam namun memberikan palung makna yang begitu dalam buat mereka yang mau membacanya dengan seksama.

gila…

April 18, 2009 - Leave a Response

 

dari: tidakmenarik.files.wordpress.com

Ada teman yang mengumpulkan data tingkah aneh para caleg gagal pasca penghitungan suara. Makin hari, sepertinya data itu akan semakin memanjang. Dan rasanya bakal semakin sering kita menemukan berita di media tentang fenomena caleg gagal ini. Lihat listnya di sini.

Yang paling tragis tentu meninggal atau bunuh diri, lalu ada juga yang mengambil kembali barang/uang sogokan dan yang terus bertambah adalah yang terganggu mental.

Mungkin ada satu dua pelajaran yang bisa saya ambil dari fenomena ini. Pertama, bahwa mental untuk gagal atau kalah juga penting untuk diajarkan kepada sebanyak mungkin orang. Tentu dengan tak lupa mengedepankan mental untuk menang dan gigih berusaha. Gagal atau kalah adalah sebuah kembang hidup yang memang tak terhindarkan buat semua orang.

Kedua, atribut kebendaan berupa tahta, harta (dan wanita) telah terus menjadi arus utama alam bawah sadar kolektif di tengah kehidpan masyarakat. Maka segala cara dan upaya serta usaha potong jalur untuk menggapainya menjadi hal yang biasa. Orang makin materialistis dan mengukur segalanya (terutama) dengan atribut-atribut tersebut.  Rasanya makin kecil dalam kesadaran kolektif kita tentang betapa ada ‘banyak jalan lain’yang bisa ditempuh manusia untuk mengejar bahagia dibanding harus mengejar hingga gila atribut kebendaan di atas.

Mungkin kita akan terus melihat daftar keanehan caleg gagal  itu memanjang. Perlu juga diapresiasi, caleg partai mana yang nantinya paling sedikit memenuhi list daftar keanehan itu. Paling tidak, secara tersirat, itu menunjukkan kesiapan sistem mereka untuk memilih orang . Moga saja menunjukkan, bahwa masih ada harapan untuk negeri ini untuk menjadi lebih baik. Amin.

Betul gak?

Sekedar garis bawah sederhana dari seorang yang berpikiran sederhana seperti saya.

lubang di jalan

April 15, 2009 - Leave a Response

Jika Anda adalah seorang pemimpin sebuah negara atau daerah, atau pemimpin sebuah instansi terkait, apa sih yang ada di kepala Anda ketika melihat sebuah lubang menganga di jalan?

Terganggukah Anda dengan lubang tersebut? Terpikirkah akibat yang bisa ditimbulkan sang lubang bagi ‘rakyat’ Anda yang kebetulan melintas?

Lubang di jalan bukan semata terkait aspek keteknisan, namun bisa mengakibatkan kecelakaan yang berujung pada tragedi bagi yang mengalaminya. Dengan akibat-akibat lanjutan yang bisa menimpa keluarga sang korban.

Mungkin terlalu muluk di negeri ini untuk mengharapkan seorang pemimpin menjadi insomnia atau minimal bersusah hati, hanya karena melihat sebuah lubang di jalan.

Bukan hanya lubang di jalan, banyak hal lain yang mempunyai dampak sejenis ada di sekitar kita yang seolah jauuuh  dan tak terjamah dari jangkauan mereka yang diamanahkan untuk mengurusinya. Baik di pemerintahan, legislatif maupun aparat terkait lainnya.

Coba perhatikan betapa aspek keselamatan begitu terabaikan dalam fasilitas publik kita. Dari jembatan penyeberangan yang menganga atau tiang listrik yang terkadang berdiri sembarangan di badan jalan. Akan menjadi daftar panjang jika kita ingin sebutkan.

Lubang di jalan dan hal-hal lain itu memang bukan sekedar aspek teknis atau manajerial belaka. Tapi sebuah tanda paling gamblang, betapa remeh dan tak pentingnya nasib kita sebagai rakyat di mata para penguasa.

Jadi, maap saja, jangan terlalu muluk berharap ada pemimpin negeri ini yang berhati resah atau gundah jika melihat ada sebuah lubang menganga di tengah jalan… Walau korban sering berjatuhan.

Iya nggak sih?

===

gambar diambil dari blog ini

saya bangga ikut pemilu…

April 10, 2009 - Leave a Response

Pesta telah usai…

nyontreng bersama anakTentu saja: ada antusiasme, ada kecewa, ada pembelajaran, ada semangat dan harapan serta kebodohan yang berulang pada pemilu 2009 ini. Tapi saya gak nyesel ikut menjadi seorang pemilih di pemilu kali ini. Saya malah bangga, menjadi bagian dari proses pendewasaan bangsa ini walau dengan peran ala kadarnya.

Soal ketidaksempurnaan, baik yang disebabkan karena kekurangabaian, kesengajaan, ketidakkompetenan atau mungkin usaha kecil-kecilan untuk membuat celah manipulatif oleh beberapa pihak memang sempat membuat jengkel. Apalagi melihat besarnya biaya kegiatan serta melihat banyak rekan, sobat, kerabat yang terhilangkan haknya karena lenyap dari DPT.

Karena sudah terjadi, mau apalagi, yang bisa dilakukan pihak terkait (terutama para legislator dan pemerintah) memang cuma berusaha sekuat mungkin memperbaikinya di masa datang. Saling menyalahkan juga bukan solusi buat saat ini, paling gak menurut saya pribadi.

Untuk Pemilu yang lebih baik, pemerintah mendatang punya PR besar untuk bikin data penduduk kita jadi bener. Bagaimana tidak, yang didata itubukan sekedar angka tapi pemangku hak paling besar negara ini: rakyat! Kalau datanya saja sudah gak bener, pemerintah harus malu kalau mereka ngaku-ngaku menjadi pelayan rakyat. Eh, tapi apa ada pemerintah dan aparat yang bener-bener mau jadi pelayan rakyat? Hmm… 

Kalau data bena, rasanya KTP sudah bisa jadi sekalian tanda pemilih atau pelayanan sosial lainnya. Pasti bisa menghemat biaya lebih besar jika terwujud.

Catatan kecil lainnya, ya soal banyaknya partai yang bikin senewen itu. Jumlah banyak yang bikin kertas suara berukuran jumbo. Banyak pemilih stress gara-gara keribetan ini. Terutama kaum manula dan pemilih manula. Bahkan sampai ada yang gak nyontreng tapi malah menulis gede-gede di kertas suara: “Saya Bingung Pak!!!!” Halah!

Bahkan untuk DPRD di beberapa daerah perlu dua lembar (ukuran jumbo) untuk menampung semua caleg. Dan cilakanya, dua lembar itu tidak saling terkait yang bikin, setidaknya di TPS saya, jadi lepas dan ketuker satu sama lain. Terbayang kisruh dan dampaknya buat keabsahan suara. Aspek teknis yang bikin sebagian suara rakyat dan effort mereka jadi rusak juga.

Apapun hasilnya, moga-moga tetap jadi yang terbaik untuk seluruh rakyat. Semoga bukan jadi harapan kosong belaka…

Seperti Matahari…

April 3, 2009 - Leave a Response

Ada banyak lirik lagu yang memberi makna buat saya… Beberapa diantaranya adalah yang dibuat oleh Iwan Fals dalam beberapa lagunya. Salah satunya yang membekas setiap kali saya dengarkan adalah lagu Bang Iwan yang berjudul Seperti Matahari.

Syair lagunya dalem dan menyentuh banget. Terutama untuk bagian memberi itu tenangkan hati, wah sebagai orang yang jarang memberi rasanya ikut ‘tertonjok’ juga saat mendengar lagu ini. Hehehe..

Dari yang saya amati, memang orang-orang yang memberi, baik dengan tersembunyi maupun terang-terangan. Yang berusaha memberi dengan ikhlas seperti memiliki sejenis aura positif buat lingkungan sekitarnya. memang enak jadi sekedar pengamat nih hehehe…

Sekedar sharing saja, mungkin teman-teman punya pendapat yang beda soal lagu ini?

Seperti Matahari
Iwan Fals ( Album Suara Hati 2002 )

Keinginan adalah sumber penderitaan
Tempatnya didalam pikiran
Tujuan bukan utama
Yang utama adalah prosesnya

Kita hidup mencari bahagia
Harta dunia kendaraannya
Bahan bakarnya budi pekerti
Itulah nasehat para nabi

Ingin bahagia derita didapat
Karena ingin sumber derita
Harta dunia jadi penggoda
Membuat miskin jiwa kita

Ada benarnya nasehat orang orang suci
Memberi itu terangkan hati
Seperti matahari
Yang menyinari bumi
Yang menyinari bumi

Ingin bahagia derita didapat
Karena ingin sumber derita
Harta dunia jadi penggoda
Membuat miskin jiwa kita

Keinginan adalah sumber penderitaan…

lirik saya ambil dari sini:
http://iwanfalsmania.blogspot.com