taman kata

taman sederhana, ketika kata mencari makna. taman sederhana orang biasa yang berguman tentang alam dan dirinya. taman tanpa bunga penuh warna. hijau seadanya. taman sederhana, taman kata.

***

Nisan
sengon yang angkuh
dengan kemboja berbunga luruh
gundukan bernisan batu
tiap hari membuka seperti buku

Cipinang, 12/8

Simpang
pilihan itu sesuatu
paksa hidup diam di sudut
hanya satu muka
yang dingin dan beku
apakah cara itu harus satu
selalu

Cipinang, 12/8

Gerimis Agustus
membasah
ilalang kegalauan
kolam gelisah
daun hati kelu
para-para kebimbangan
mengaliri penat dalam cawan diam

sesal

humus membau
berkisah semasa lalu
dan capaian yang termangu
dalam ragu

Cipinang, 11/8

Wajah
cekung relung
jejak pencarian
tak berkesudahan
tentang puas
yang kini tak bisa lagi bersisian jalan

taman yang kau jelang
masih di sana
tertimbung ilalang
setinggi gemintang

sibak saja dengan tengan kelapangan
jiwa dan semesta mu

Cipinang, 30/7 untuk seorang kawan


Apami

memandangi rumah kotak burung
dari jendela hotel
berbicara tentang wacana besar
yang belum tuntas terkejar

wajah teduh
dengan gelora penuh
persembahkan peluh
untuk sesuatu yang tak terlalu jauh

kayuh!

Makassar, 24/7


Jenuh
membunuh jenuh
tiga ribu kilo meter di atas sauh
rentang titik cahaya adalah jalan luruh
tentang tapak hidup yang kian jauh

membunuh jenuh
di sudut merindu peluh
udara berembun
menghembus
suluh

denpasar, 31/1


Kita ini apalah
Bung, kita ini apalah
sedzarah dalam kubik semesta yang meruah
senoktah tanpa pilah dan bilah
lenyaplah, Bung!

Bung, kita ini apalah
besarkan kepala, tak usah
segala hias dan gemerlap
adalah sudah
Bung!

denpasar, 31/1


Setitik
merasakan diri menjadi setitik itu indah
kesunyian itu kadang membentang jiwa

menjadi setitik adalah sah
tentang ketiadaan yang benderang

menitiklah
seperti semesta saat berhadap Muka
alam yang berjinjit
dalam kelenyapan yang ternyana

sanur, 1/2

***

13:10
Malfungsi

Fluktuasi

Sunyi

…………………….

jakarta, 27/11

***

Nenek dan Daster
Di halaman belakang yang melapang
nenek tua duduk tenang
melihat cucu berlarian riang
duduk di kursi da vinci empuk
dengan sandaran yang buatnya tenggelam
senang

Di sebuah toko kecil
nenek tua mengendap
dengan daster kusam
berjinjit di koridor rak-rak
terngiang di telinganya tangisan cucu
yang kehabisan susu
sayang

Seorang nenek tua tertidur di kursi da vinci
seorang lainnya tergagap di kantor polisi

jakarta, 27/1

***

Sahaja
Perempuan sahaja
di paruh baya
menjemput usia
empat putra dengan wajah duka
salami dunia dengan tinggalkan makna

Pria bersahaja itu lalu berkata
“Maafkan ia…”

Joki Pagi
Berjajar dengan baju tanpa warna
wajah tirus dan pasi
gurat-guratnya adalah derita

mengangkat tangan
menggendong beban
para bayi yang ringan seperti kapas
pias

melawai 23/1

***

Suam
Suam dihati
menapaki lembah anai
kenduri
sehari
mati

Labirin
Laci merah berderet memanjang
jentik tuts, suara telepon dan rayuan perdagangan
pagi hingga mentari terlelap
mengisi hari
dengan ilusi

Mama
Dua puluh kilo, menghitung jejak
menyusuri aspal hitam
membalas kasih yang tak mungkin terbekam
ketika pagi menjelang
aku belum lagi memberimu senampan cita
hanya ada harap
hanya ada cinta
dua puluh kilo hingga puncak bukit yang nampak di jendela
dan batu kapur yang menguban dalam jarak pandang
hilang

Sekarat
Meninggalkan derita untuk dua ratus juta kepala
karat dendam dalam dada
jelata yang kelu dan bisu dalam sembilu
orang yang kehilangan tangis karena mata yang pupus

kini,
mengisi ruang utama corong-corong warta
seolah jadi dewa penolong tanpa cela
nista yang terlupa

melawai 21/11

***

Ruas 116
Tawa yang berdecit
dari klub dengan mantel bulu dan wanita pemburu
Tupac Shakur yang tepekur
dalam gelimang bubuk 2 persen gerigisi urat nadi
peracik telanjang yang buat wanita muda terjengkang di jalan
jalang!

“Kapan kau pulang, Frank?”

jakarta pagi buta 18/1

***

Evan
Evan menari seperti sufi
meniti nada demi nada
dari rumput dan angin padang
milyaran sel dan trilyunan dna adalah nada
gemintang tak terhingga adalah nada
pekik kota adalah nada
suka dan derita adalah nada
jua

terus tercipta di semesta
karena kehendakNya

bandung 10/1

***

One Response

  1. […] taman kata […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: